Minggu, 15 November 2009

KEMISKINAN DAN KEBODOHAN

Oleh : Syamsurizal


KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan makalah dengan judul Kemiskinan dan Kebodohan, dapat berjalan tanpa halangan yang berarti, dari awal sampai selesai.
Penulisan makalah ini berdasarkan literatur yang ada. Penyusun menyadari akan kemampuan yang sangat terbatas sehingga dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangannya. Namun makalah yang disajikan sedikit banyak bermanfaat bagi penyusun khususnya dan mahasiswa lain pada umumnya.
Kemiskinan dan Kebodohan adalah sebuah delema yang selalu mengayuti kehidupan dari sebagian masyarakat, terutama masyarakat yang berada dilingkungan Negara berkembang seperti Indonesia salah satunya.
Berdasarkan delema tersebut, maka salah satu jalan yang harus ditempuh oleh pengambil kebijakan adalah melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang kehidupan yang dialami oleh masyarakatnya itu sendiri, dengan tetap mengkedepankan teori Kenz (1965), yaitu sebuah Negara berkembang harus memfokuskan pembangunan kebidang ekonomi, sehingga perubahan social tidak berarti apa pun bila tidak memiliki nilai lebih.
Dalam penulisan makalah ini mungkin terdapat kata-kata yang tidak sesuai sebagaimana mestinya, atau kurang mengena dengan sasaran yang harus dituju. Maka oleh sebab itu penulis mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun dari semua pihak yang membacanya, dan akhir kata penulis mengucakan ribuan terima kasih.

BAB I
PENDAHULUAN



Latar belakang Masalah

Walau tidak semua orang merasakan kehadirannya sebagai masalah, sesungguhnya, kemiskinan adalah salah satu masalah yang selalu dihadapi oleh manusia, bila dan di manapun mereka berada. Masalah ini sama tuanya dengan usia kemanusiaan itu sendiri dan implikasinya dapat melibatkan keseluruhan aspek kehidupan manusia bersangkutan. Bagi mereka yang tergolong miskin, kemiskinan adalah sesuatu yang nyata ada dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun demikian belum tentu semua manusia menyadari kalau mereka adalah orang miskin. Kesadaran itu baru dirasakan ketika mereka telah berinteraksi dan membandingkan kehidupan yang dirasakannya dengan kehidupan orang lain yang mempunyai tingkat kehidupan social dan ekonomi yang lebih tinggi dari mereka.

Sebuah masalah sosial, kemiskinan tidak hanya berpengaruh kepada kehidupan pribadi seseorang yang hidupnya atau keluarganya berada dalam kemiskinan itu, tetapi juga terhadap lingkungan dan masyarakat lain yang berada dalam system kemasyarakatani di luar diri dan keluarganya dalam arti yang jauh luas dari itu. Ia tidak saja akan berdampak kepada kekurangan pangan, sandang, atau perumahan, tetapi juga dapat merambah kepada sub-sub sistem social yang lebih luas lagi dari itu, seperti pendidikan, dan juga keamanan. Kemiskinan dapat membuat seseorang tidak mengenyam pendidikan yang memadai, sehingga hidup dalam kebodohan. Ia juga dapat membuat seseorang melakukan perbuatan melanggar hukum, sehingga mengganggu keamanan negara.

BAB II
PEMBAHASAN


Di Provinsi Riau ini misalnya, banyak fakta menunjukkan benarnya teori seperti disebut di atas. Dengan tingkat kemiskinan sekitar 40% yang ada di daerah ini, sekitar 60% lebih masyarakat di daerah ini hanya mampu mengenyam pendidikan setingkat Sekolah Dasar (SD), dimana sebagian besar dari jumlah itu justru tidak tamat SD. Ini berarti bahwa sekitar 60% masyarakat di provinsi ini tergolong tertinggal Sumber Daya Manusia (SDM)nya, dan itu termasuk ke dalam angka kebodohan. Di daerah-daerah tertentu, seperti di pinggir kota Bagan Siapi-api (Rokan Hilir) dan Bengkalis, misalnya, sekitar 20% dari masyarakatnya tidak pernah sekolah sama sekali, dengan alasan tidak ada dana untuk itu. Mereka tidak sekolah bukan karena malas, tetapi karena miskin. Dan, akibat dari itu adalah mereka hidup dalam kebodohan.

Adalah hal yang menarik untuk diungkap dari temuan seperti disebut dalam alinea terakhir diatas bahwa kebodohan masyarakat di daerah ini berasal dari kemiskinan yang mereka derita. Mereka bodoh bukan karena tidak mau sekolah, tetapi karena mereka adalah orang miskin yang tidak punya biaya untuk sekolah.

Tetapi adakah hubungan kemiskinan yang mereka derita dengan kebodohan yang mereka alami itu ? Jawabannya, ada. Beberapa responden yang ditanyai mengenai hal itu menjawab bahwa mereka miskin karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan dan bagaimana cara bekerja yang baik untuk mengubah keadaan hidup yang mereka derita itu.
Di sini terbenarlah teori yang mengatakan bahwa antara kemiskinan dan kebodohan adalah dua kondisi social yang saling berkait antara satu sama lain. Kebodohan menyebabkan orang miskin, dan kemiskinan juga dapat menyebabkan orang menjadi bodoh. Kehidupan orang yang menderita dua kondisi yang tidak menguntungkan ini tidak saja stagnan, tetapi justru akan menimbulkan beban kepada pihak lain, langsung atau tidak langsung. Oleh sebab itu, penanggulangannya tidak boleh dilakukan secara parsial, tetapi harus simultan.

Kemudian, kemiskinan juga dapat menimbulkan kerawanan social di bidang keamanan. Tidak jarang orang miskin menjadi beringas ketika tuntutan dasar hidup nya tidak terpenuhi, dan akhirnya melakukan apa saja untuk memenuhi tuntutan hidup yang mendesak tersebut. Hal ini di Riau, antara lain, terbukti dengan termasuknya daerah ini sebagai daerah dengan tingkat kerawanan social yang cukup tinggi.

Kaitan antara kemiskinan yang dapat menyebabkan seseorang menjadi bodoh, dan kebodohan yang juga dapat membuat seseorang menjadi miskin di satu pihak, dengan kemiskinan dan kebodohan yang dapat pula berakibat munculnya prilaku-prilaku kriminal di pihak lain, adalah dua kondisi social yang sesungguhnya perlu dicaritahu factor luaran yang menyebabkan lahirnya dua kondisi yang saling berkait tersebut.

Di sini, teori yang pernah dikemukakan oleh Profesor Selo Soemarjan sekitar 27 tahun yang lalu, agaknya, relevan untuk dikemukakan. Tokoh sosiologi terkemuka Indonesia itu menggunakan istilah “kemiskinan structural” untuk menyebutkan kemiskinan yang diderita oleh segolongan masyarakat karena struktur social yang tidak memungkinkan mereka dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapat yang sebenarnya tersedia bagi mereka. .
Jadi, mereka miskin karena bodoh, mereka bodoh karena miskin, dan mereka miskin karena tidak mendapat kesempatan untuk ikut menggunakan sumber-sumber pendapat hidup yang sebenarnya tersedia untuk mereka.
Tetapi, pertanyaan lanjut yang perlu dikemukakan juga dalam konteks ini adalah, kenapa mereka tidak mendapat kesempatan itu ? Apakah karena adanya ketidakadilansosial, atau justru lebih bertumpu kepada etos kerja dan atau budaya yang berlaku di tengah-tengah masyarakat itu sendiri ?
Kelihatannya, kemungkinan seperti disebut terakhir lebih banyak memegang peran terciptanya kemiskinan tersebut, disamping factor structural seperti disebut di atas. Kalangan ilmuan social sepakat bahwa cara atau prilaku hidup yang dianut oleh suatu masyarakat mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap tumbuh dan berkembangnya kemiskinan di masyarakat bersangkutan. Kemiskinan yang timbul oleh factor ini disebut sebagai kebudayaan kemiskinan, atau kemiskinan cultural. Kemiskinan jenis ini seringkali berkembang bila system ekonomi dan social yang berlapis-lapis rusak atau berganti seperti di masa peralihan dari feodalisme ke kapitalisme, atau pada masa pesatnya perkembangan teknologi dan industrialisasi.
Maka, kembali ke Riau, sebagai salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi di Indonesia, beberapa factor seperti dikemukakan di atas perlu digunakan sebagai pisau analisis untuk melihat adakah factor yang lebih dominan dalam menciptakan kemiskinan di daerah ini, atau semua factor itu bermain secara serempak, sehingga pemecahan masalahnya pun perlu dilakukan dengan pendekatan multi factor itu sendiri.
Oleh sebab itu, disinilah pentingnya sebuah penelitian lapangan perlu dilakukan secara ilmiah, dan di sini pulalah sebuah kajian teoritis dipadu bersama temuan lapangan untuk menemukan solusi-solusi obyektif tentang masalah kemiskinan dan kebodohan di Provinsi Riau.
Seperti disinggung di atas, kajian yang mendalam tentang masalah kemiskinan, kebodohan, dan infrastruktur di Provinsi Riau ini harus terus di lanjutkan dengan tujuan untuk mengetahui secara mendalam dan menjelaskan secara ilmiah kondisi factual yang terjadi di lapangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah tiga variable tersebut.
Kajian atau penelitian-penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen atau pihak lainya diharap berguna sebagai masukan dan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan-kebijakan strategis bagi Gubernur dan bagi siapa saja yang peduli terhadap persoalan-persoalan kemiskinan, kebodohan, dan infrastruktur di negeri ini secara keseluruhan.
Begitupun seterusnya, bagi peneliti-peneliti diharap dapat menjadi referensi tertulis dan ilmiah, sehingga apapun kebijakan yang akan mereka lakukan akan menjadi sesuatu yang rasional, dan proporsional, serta jauh dari sekedar dugaan-dugaan yang justru akan menambahkan banyaknya permasalah berikut ketimbang memecahkannya sebagaimana diharapkan oleh kita semua.
Adapun peliputan yang lakukan di lapangan dengan menjadi kan teori-teori ilmiah mutakhir tentang kemiskinan dan kebodohan sebagai pisau analisis untuk menemukan berbagai factor yang bermain di sekitar masalah tersebut.
Disamping itu juga teori-teori itu juga dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam menentukan langkah-langkah penanggulangannya yang dirasa perlu dilakukan oleh semua pihak yang terkait dengan masalah ini Riau. Saya secara pribadi memandang cara seperti ini lebih tepat, agar kemungkinan terjadinya bisa dapat diminimalisir, karena teori-teori yang digunakan memang telah teruji secara ilmiah, walau untuk Riau masih sebagai sesuatu yang baru.
Dengan menggunakan teori-teori yang telah teruji itu juga, sebuah upaya untuk berguru kepada orang atau pihak-pihak tertentu yang telah berpengalaman tidak ditinggalkan, sehingga kemungkinan akan terjadinya kesalahan dapat diperkecil.
Berkenaan dengan hal tersebut diatas, salah satu upaya pemerintah dalam memberantas kebodohan dan kemiskinan ini adalah dengan memperbanyak / mendorong / memberi kesempatan seluas-luasnya kepada kalangan peneliti dengan memberikan dukungan moril dan sprituil, sehingga diharapkan nantinya, penelitian-penelitian tersebut bisa makximal dan mendapatkan hasil yang berkualitas, sehingga bisa menjadi acuan pemerintah dalam menjalankan amanah rakyat, serta realisasi untuk menjadikan masyarakat bebas dari kebodohan dan kemiskinan akan terwujud. Amin

BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN
1. Kemiskinan adalah salah satu masalah yang selalu dihadapi oleh manusia, bila dan di manapun mereka berada
2. Kemiskinan adalah sesuatu yang nyata ada dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun demikian belum tentu semua manusia menyadari kalau mereka adalah orang miskin. Kesadaran itu baru dirasakan ketika mereka telah berinteraksi dan membandingkan kehidupan yang dirasakannya dengan kehidupan orang lain yang mempunyai tingkat kehidupan social dan ekonomi yang lebih tinggi dari mereka.
3. Mereka bodoh bukan karena tidak mau sekolah, tetapi karena mereka adalah orang miskin yang tidak punya biaya untuk sekolah.
4. Jadi, mereka miskin karena bodoh, mereka bodoh karena miskin, dan mereka miskin karena tidak mendapat kesempatan untuk ikut menggunakan sumber-sumber pendapat hidup yang sebenarnya tersedia untuk mereka.

DAFTAR PUSTAKA
1. Parsudi Suparlan, Kemiskinan di Perkotaan, Jakarta, Sinar Harapan, 1984, hal. 11.
2. Data Primer 2004.
3. Kapolda Riau, dalam Riau Pos
4. Selo Soemardjan, “Kemiskinan Struktural dan Pembangunan: Pengantar,” Kemiskinan Struktural, ed. Alfian et. al., Jakarta, YIIS., 1980, h.5.
5. Lihat dan badingkan, Oscar Lewis, dalam Parsudi, ibid., h.29-32.



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …...…………………………………………………………i
DAFTAR ISI …………………………………………………………….. ii

BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang …………………………………………………………….1

BAB II. PEMBAHASAN …………………………………………………………….5

BAB III. PENUTUP
Kesimpulan …….……………………………………………………. 14

DAFTAR PUSTAKA ….………………………………………………………..15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar